Wednesday, May 25, 2022

Apa Itu Gangguan Pseudobulbar affect (PBA)?

Apa Itu Gangguan Pseudobulbar affect (PBA)?





Pengertian


Izky.com - Pseudobulbar affect adalah kondisi gangguan saraf yang membuat emosi yang tidak terkendali, dalam situasi yang tidak tepat. Seperti kondisi labil emosional, tawa dan tangis patologis, gangguan ekspresi emosi yang tidak disengaja, tawa atau tangisan kompulsif, atau inkontinensia emosional.

Dikutip dari Mayo Clinic, pseudobulbar affect biasanya muncul pada orang-orang dengan cedera saraf, yang dapat memengaruhi bagian otak pengontrol emosi. Kondisi ini sering disalahartikan sebagai gangguan suasana hati (mood swing).

Pria dan wanita mungkin saja mengalami hal ini. Pseudobulbar affect (PBA) juga diketahui bisa muncul pada orang dengan masalah saraf lainnya, seperti penyakit Parkinson dan amyotrophic lateral sclerosis (ALS).


Penyebab


Beberapa kondisi kesehatan tertentu bisa menjadi penyebab munculnya pseudobulbar affect (PBA). Dikutip dari American Stroke Association, pada kondisi pseudobulbar affect, ada pemutusan antara lobus frontal (bagian otak yang mengontrol emosi) dan otak kecil dengan batang otak (di mana refleks diterjemahkan).

Efeknya tidak terkendali dan dapat terjadi tanpa pemicu emosional. Namun, butuh penelitian lebih lanjut soal penyebab pasti pseudobulbar affect.

Pseudobulbar affect (PBA) biasanya muncul pada orang-orang dengan kondisi atau cedera saraf, seperti Stroke, Amyotrophic lateral sclerosis (ALS), Multiple sclerosis (MS), Cedera otak traumatik, Penyakit Alzheimer, Penyakit Parkinson, dan Epilepsi.


Gejala


PBA sering disalahartikan sebagai depresi, gangguan bipolar, gangguan kecemasan umum, skizofrenia, gangguan kepribadian, dan epilepsi.

Memang gejala pseudobulbar affect yang umum adalah menangis. Kondisi ini sering disalahartikan sebagai depresi. Namun, episode PBA cenderung berdurasi pendek, sedangkan depresi menyebabkan perasaan sedih yang terus-menerus.

Gejala utama pseudobulbar affect (PBA) dapat mengalami ledakan tangisan atau tertawa yang tidak terkendali, berlebihan, atau tidak berhubungan dengan keadaan emosi Anda. Selain itu, Anda juga sering mengalami perubahan emosi, seperti dari tawa menjadi tangis, dalam waktu singkat.

Gangguan PBA tidak menyebabkan penderitanya mengalami gangguan tidur atau kehilangan nafsu makanan. Namun, depresi adalah kondisi umum yang menyerang orang dengan PBA.


Pengobatan


Pengobatan pseudobulbar affect biasanya bertujuan untuk mengurangi keparahan dan frekuensi ledakan emosional. Ada pilihan pengobatan, yaitu dengan menggunakan Antidepresan atau Dextromethorphan hydrobromide dan quinidine sulfate (Nuedexta).








******

Monday, May 23, 2022

Penyebab dari gangguan kejiwaan Self-injury

Beberapa Penyebab Seseorang Menyakiti Diri Sendiri Atau Self-injury



Pengertian



Izky.com - Self-injury merupakan perilaku menyakiti atau melukai diri sendiri yang dilakukan secara sengaja dan sadar. Tindakan ini merupakan salah satu bentuk gangguan penyakit kejiwaan.

Self-injury berupa tindakan fisik dengan melukai tubuh dengan benda tajam atau benda tumpul seperti menyayat atau membakar kulit, memukul tembok atau diri sendiri, membenturkan kepala, menggigit diri sendiri, dan mencabut rambut. Pelaku self-injury juga dapat dengan sengaja mengkonsumsi sesuatu yang berbahaya seperti narkoba.


Penyebab



Self-injury umumnya dilakukan dengan alasan untuk pelampiasan, mengalihkan perhatian, dan mengatasi emosi berlebih seperti stres, marah, cemas, sedih, kesepian, putus asa, mati rasa, rasa bersalah, atau benci kepada diri sendiri.

Berbagai emosi tersebut dapat muncul akibat beberapa hal, seperti Masalah sosial, Trauma psikologis, dan Gangguan mental.



 

Masalah sosial


Perilaku self-injury rentan terjadi pada orang yang sedang mengalami kesulitan hidup dan masalah sosial, misalnya menjadi korban bully atau perundungan masyarakat, atau mendapat tekanan akibat tuntutan dari orang sekitar.

Contoh lain dapat berupa hal seperti konflik dengan keluarga, pasangan, atau teman, atau krisis identitas yang menyangkut orientasi seksual, dapat memicu perilaku menyakiti diri sendiri.


Trauma psikologis


Kejadian traumatis psikologis, seperti kehilangan orang terdekat dan menjadi korban kekerasan emosional, fisik, atau seksual, juga bisa membuat seseorang merasa hampa, mati rasa, dan rendah diri.

Pengidapnya akan menganggap dengan menyakiti diri sendiri dapat mengingatkan dirinya bahwa ia masih hidup dan merasakan sesuatu layaknya orang normal lainnya.


Gangguan mental

Self-injury juga bisa muncul sebagai gejala dari beberapa penyakit mental, seperti depresi, gangguan makan, gangguan stres pascatrauma (PTSD), gangguan penyesuaian, atau gangguan kepribadian ambang.


Penanganan Self-Injury


Perilaku melukai diri sendiri berisiko menimbulkan luka fisik yang fatal dan meningkatkan risiko bunuh diri. Banyak pengidap perilaku self-injury harus dirawat di rumah sakit atau berakhir dengan kecacatan permanen hingga kematian.


Pelaku self-injury perlu mendapatkan perawatan khusus dari ahli kejiwaan, baik psikolog maupun psikiater. Psikolog atau psikiater akan melakukan pemeriksaan untuk mendiagnosis perilaku self-injury dan menentukan penyebabnya. Penanganan yang diberikan pun akan disesuaikan dengan penyebab munculnya perilaku ini.


Perawatan medis, terapi, dan konseling merupakan penanganan yang cukup umum dilakukan. Dan beberapa hal ini dapat dilakukan untuk membantu para pengidap self-injury, sbb:



  • Mencari dukungan sosial dan psikologis dari teman, keluarga, atau kerabat dekat
  • Hindari diri dari benda tajam, atau sesuatu yang beresiko melukai tubuh
  • Menerapkan pola hidup sehat, seperti rutin berolahraga, istirahat yang cukup, serta mengonsumsi makanan bergizi
  • Mengalihkan perhatian ketika ada keinginan untuk melakukan self-injury
  • Melakukan kegiatan positif, mulai dengan kegiatan keseharian seperti bersih-bersih
  • Mendalami hobi, guna membantu mengekspresikan emosi secara lebih positif
  • Menghindari konsumsi minuman keras dan narkoba









******


Saturday, May 21, 2022

Ciri-ciri Penderita Self-injury Gangguan Perilaku menyakiti diri sendiri

Apa Saja Ciri-Ciri Penderita Gangguan Perilaku Self-Injury?


Pengertian


Izky.com - Self-injury merupakan perilaku menyakiti atau melukai diri sendiri yang dilakukan secara sengaja dan sadar. Tindakan ini merupakan salah satu bentuk gangguan penyakit kejiwaan.


Self-injury berupa tindakan fisik dengan melukai tubuh dengan benda tajam atau benda tumpul seperti menyayat atau membakar kulit, memukul tembok atau diri sendiri, membenturkan kepala, menggigit diri sendiri, dan mencabut rambut. Pelaku self-injury juga dapat dengan sengaja mengkonsumsi sesuatu yang berbahaya seperti narkoba.


Perilaku mencederai diri sendiri berisiko menimbulkan luka fisik yang fatal dan meningkatkan risiko bunuh diri. Sebab tak jarang pelaku self-injury harus dirawat di rumah sakit atau berakhir dengan kecacatan permanen hingga kematian.


Penyebab


Self-injury umumnya dilakukan dengan alasan untuk pelampiasan, mengalihkan perhatian, dan mengatasi emosi berlebih seperti stres, marah, cemas, sedih, kesepian, putus asa, mati rasa, rasa bersalah, atau benci kepada diri sendiri.


Berbagai emosi tersebut dapat muncul akibat beberapa hal, seperti Masalah sosial, Trauma psikologis, dan Gangguan mental.




Ciri-ciri pengidap Self-injury


Penderita Self-injury tidak begitu menunjukkan gejala khas. Kerena perilaku self-injury tersebut biasanya dilakukan saat dalam kondisi sedang sendirian dan tidak di tempat umum.


Namun, ada beberapa ciri yang bisa menjadi tanda seseorang memiliki kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri, yaitu:


  • Memiliki sejumlah luka di tubuhnya, seperti luka sayat, memar di buku jari-jari tangan, atau luka bakar di tubuhnya
  • Menyembunyikan luka tersebut dan menghindar ketika ditanya apa penyebabnya
  • Mengenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuh untuk menyembunyikan luka
  • Menunjukkan kesulitan dalam bersosialisasi di lingkungan masyarakat
  • Memperlihatkan gejala depresi, seperti suasana hati yang buruk, sering merasa sedih, menangis, dan tidak memiliki motivasi hidup
  • Merasa tidak percaya diri atau menyalahkan diri sendiri atas masalah apa pun yang terjadi
  • Mati rasa ketika mereka mengalami luka fisik, separah apapun meski hingga berdarah-darah








******



Apa itu Gangguan Kejiwaan Self-Injury?

Apa itu Gangguan Psikologis Self-Injury?



Pengertian



Izky.com - Self-injury merupakan perilaku menyakiti atau melukai diri sendiri yang dilakukan secara sengaja dan sadar. Tindakan ini merupakan salah satu bentuk gangguan penyakit kejiwaan.

Self-injury berupa tindakan fisik dengan melukai tubuh dengan benda tajam atau benda tumpul seperti menyayat atau membakar kulit, memukul tembok atau diri sendiri, membenturkan kepala, menggigit diri sendiri, dan mencabut rambut. Pelaku self-injury juga dapat dengan sengaja mengkonsumsi sesuatu yang berbahaya seperti narkoba.


Penyebab



Self-injury umumnya dilakukan dengan alasan untuk pelampiasan, mengalihkan perhatian, dan mengatasi emosi berlebih seperti stres, marah, cemas, sedih, kesepian, putus asa, mati rasa, rasa bersalah, atau benci kepada diri sendiri.

Berbagai emosi tersebut dapat muncul akibat beberapa hal, seperti Masalah sosial, Trauma psikologis, dan Gangguan mental.



Ciri-Ciri Pengidap Self-Injury



Penderita Self-injury tidak begitu menunjukkan gejala khas. Kerena perilaku self-injury tersebut biasanya dilakukan saat dalam kondisi sedang sendirian dan tidak di tempat umum.

Namun, ada beberapa ciri yang bisa menjadi tanda seseorang memiliki kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri, yaitu:

  • Memiliki sejumlah luka di tubuhnya, seperti luka sayat, memar di buku jari-jari tangan, atau luka bakar di tubuhnya
  • Menyembunyikan luka tersebut dan menghindar ketika ditanya apa penyebabnya
  • Memperlihatkan gejala depresi, seperti suasana hati yang buruk, sering merasa sedih, menangis, dan tidak memiliki motivasi hidup
  • Menunjukkan kesulitan dalam bersosialisasi di lingkungan masyarakat
  • Merasa tidak percaya diri atau menyalahkan diri sendiri atas masalah apa pun yang terjadi
  • Mengenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuh untuk menyembunyikan luka



Penanganan Self-Injury



Perilaku melukai diri sendiri berisiko menimbulkan luka fisik yang fatal dan meningkatkan risiko bunuh diri. Banyak pengidap perilaku self-injury harus dirawat di rumah sakit atau berakhir dengan kecacatan permanen hingga kematian.

Pelaku self-injury perlu mendapatkan perawatan khusus dari ahli kejiwaan, baik psikolog maupun psikiater. Psikolog atau psikiater akan melakukan pemeriksaan untuk mendiagnosis perilaku self-injury dan menentukan penyebabnya. Penanganan yang diberikan pun akan disesuaikan dengan penyebab munculnya perilaku ini.

Perawatan medis, terapi, dan konseling merupakan penanganan yang cukup umum dilakukan. Dan beberapa hal ini dapat dilakukan untuk membantu para pengidap self-injury, sbb:


  • Mencari dukungan sosial dan psikologis dari teman, keluarga, atau kerabat dekat
  • Hindari diri dari benda tajam, atau sesuatu yang beresiko melukai tubuh
  • Menerapkan pola hidup sehat, seperti rutin berolahraga, istirahat yang cukup, serta mengonsumsi makanan bergizi
  • Mengalihkan perhatian ketika ada keinginan untuk melakukan self-injury
  • Melakukan kegiatan positif, mulai dengan kegiatan keseharian seperti bersih-bersih
  • Mendalami hobi, guna membantu mengekspresikan emosi secara lebih positif
  • Menghindari konsumsi minuman keras dan narkoba








******


Thursday, May 19, 2022

Kenapa kita Menangis Tanpa Sebab

4 Hal Yang Membuat Seseorang Menangis Tanpa Sebab





Penyebab normal menangis



Izky.com - Menangis adalah respons emosional yang alami terhadap perasaan tertentu, seperti kesedihan, merasa terharu, dan perasaan bahagia.

Biasanya, air mata yang keluar karena faktor emosional akan mengalir hingga ke pipi Anda, bukan sekedar mata berair. Air mata tersebut memicu pelepasan endorfin sehingga orang yang menangis akan merasa kesedihannya berkurang atau sedikit lebih baik.

Menangis juga bertujuan untuk melepaskan masalah atau stres, meluapkan kesedihan, hingga demi mendapat perhatian dan dukungan.



Gejala menangis tanpa sebab


Penyebab menangis sering dikaitkan dengan perasan sedih atau bahagia. Namun, beberapa orang mungkin dapat meneteskan air mata tanpa alasn yang jelas.

Berdasarkan kesehatan, ada beberapa kondisi yang bisa membuat Anda meneteskan air mata seperti:


Mengalami premenstrual dysphoric disorder

PMDD atau premenstrual dysphoric disorder adalah kondisi yang mirip seperti PMS, namun dengan gejala yang lebih parah. Seseorang dengan PMDD akan mengalami gejala PMS yang lebih parah diikuti dengan depresi, tegang, dan lebih cepat marah.

Penyebab ini belum diketahui secara pasti, namun para ahli percaya bahwa kondisi ini berkaitan dengan perubahan hormon sepanjang siklus menstruasi, salah satunya serotonin.

Perasaan sedih yang dirasakan saat mengalami PMDD bisa membuat seseorang berpikiran untuk melakukan bunuh diri, menurut Women’s Health. Itulah sebabnya, perasaan wanita dengan PMDD kadang tidak terkontrol dan membuat mereka jadi sering meneteskan air mata.


Gangguan kecemasan dan stres

Gangguan kecemasan atau generalized anxiety disorder (GAD) ini akan membuat penderitanya merasa panik berlebihan, diikuti dengan jantung berdegup kencang, bahkan sulit bernapas. Kondisi ini bisa jadi alasan kenapa Anda bisa menangis tanpa sebab.

Semua emosi yang ditimbulkan saat gangguan terjadi bisa menyebabkan pasiennya menangis, padahal tidak merasa sedih atau terharu. Hanya rasa panik membuat mereka ketakutan dan membuat otak mengirimkan sinyal untuk menangis sebagai luapan emosi dan stres.


Pseudobulbar affect (PBA)

Pseudobulbar affect adalah keadaan cedera saraf otak yang membuat emosi seseorang terganggu dan menyebabkan penderitanya Menangis, tertawa, dan marah yang tidak terkendali tanpa alasan yang jelas. Penyakit ini disebut juga dengan inkontinensia emosional.


Depresi

Depresi adalah gangguan suasana hati yang bisa menyebabkan perasaan sedih terus-menerus dan hilang minat pada berbagai hal yang disukainya.

Pengidap gangguan depresi akan mengalami kesedihan yang akan terus menghantui mereka dan kesulitan untuk keluar dari kehampaan yang dirasakannya. Seringnya mereka juga akan menangis tanpa sebab yang jelas padahal pikiran mereka sedang kosong.







******


Wednesday, May 18, 2022

Pencegahan pada penyakit parkinson

Bagaimana cara mencegah penyakit Parkinson?




Pengertian penyakit Parkinson


Izky.com - Parkinson’s disease adalah kelainan sistem saraf progresif yang memengaruhi gerakan tubuh. Kelainan ini terjadi ketika sel saraf di salah satu bagian otak ada yang mati sehingga tidak menghasilkan cukup dopamin, yaitu bahan kimia otak yang berperan dalam mengendalikan gerakan otot. Akibatnya, kontrol gerakan otot menjadi menurun, sehingga penderitanya kesulitan untuk berjalan, bicara, hingga mengalami masalah keseimbangan dan koordinasi.

Disebut progresif, karena penyakit ini berkembang secara bertahap dan memburuk seiring waktu. Penyakit Parkinson adalah kelainan yang tidak dapat sembuh sepenuhnya. Namun, berbagai pilihan obat dan pengobatan dari dokter dapat dilakukan untuk membantu meringankan gejala guna menunjang kualitas hidup yang lebih baik. Pasalnya, meski penyakit ini tidak berakibat fatal, komplikasi penyakit bisa menjadi sesuatu yang serius.


Penyebab


Penyakit Parkinson terjadi ketika sel saraf (neuron) di bagian otak bernama substansia nigra menjadi terganggu atau mati. Bagian otak ini menghasilkan zat kimia otak penting yang disebut dopamin, dan berfungsi mengontrol gerakan di dalam tubuh. Bila sel saraf rusak atau mati, produksi dopamin menjadi terganggu sehingga menyebabkan masalah pada pergerakan.


Pencegahan penyakit Parkinson


Dalam beberapa penelitian telah menunjukkan ada beberapa hal yang bisa membantu mengurangi gejala pada penyakit parkinson.

Olahraga aerobik secara rutin dan teratur atau mengonsumsi kafein seperti teh, kopi, atau minuman bersoda dapat menurunkan tingkatan stres. Namun, cara ini tidak cukup kuat jika seseorang mengonsumsi minuman berkafein agar terlindungi dari Parkinson.

Selain itu, ada beberapa cara lainnya yang memungkinkan dapat membantu menurunkan risiko penyakit Parkinson untuk mencegah penyakit ini semakin berkembang. Seperti Menghindari paparan zat kimia berbahaya, seperti herbisida dan pestisida, menerapkan pola makan sehat, meningkatkan kadar vitamin D, dan mengurangi stres.







******


Friday, May 13, 2022

Komplikasi pada penyakit Parkinson

Apa Komplikasi pada penyakit Parkinson



Pengertian penyakit Parkinson


Izky.com - Parkinson’s disease adalah kelainan sistem saraf progresif yang memengaruhi gerakan tubuh. Kelainan ini terjadi ketika sel saraf di salah satu bagian otak ada yang mati sehingga tidak menghasilkan cukup dopamin, yaitu bahan kimia otak yang berperan dalam mengendalikan gerakan otot. Akibatnya, kontrol gerakan otot menjadi menurun, sehingga penderitanya kesulitan untuk berjalan, bicara, hingga mengalami masalah keseimbangan dan koordinasi.


Disebut progresif, karena penyakit ini berkembang secara bertahap dan memburuk seiring waktu. Penyakit Parkinson adalah kelainan yang tidak dapat sembuh sepenuhnya. Namun, berbagai pilihan obat dan pengobatan dari dokter dapat dilakukan untuk membantu meringankan gejala guna menunjang kualitas hidup yang lebih baik. Pasalnya, meski penyakit ini tidak berakibat fatal, komplikasi penyakit bisa menjadi sesuatu yang serius.


Diperkirakan sekitar 1 dari 500 orang di dunia terkena penyakit Parkinson. Sebagian besar penderitanya mulai mengalami gejala ketika berusia di atas 50 tahun. Namun, sekitar 1 dari 20 orang dengan kondisi ini mengaku pertama kali merasakan gejala pada usia di bawah 40 tahun.


Tanda & gejala


Penderita penyakit ini kerap mengalami berbagai gejala fisik dan psikologis, seperti depresi dan gangguan kecemasan, masalah buang air kecil, sembelit, masalah kulit, gangguan tidur, hingga masalah memori.


Penyebab


Penyakit Parkinson terjadi ketika sel saraf (neuron) di bagian otak bernama substansia nigra menjadi terganggu atau mati. Bagian otak ini menghasilkan zat kimia otak penting yang disebut dopamin, dan berfungsi mengontrol gerakan di dalam tubuh. Bila sel saraf rusak atau mati, produksi dopamin menjadi terganggu sehingga menyebabkan masalah pada pergerakan.



Komplikasi


Meski tidak mematikan, namun juga berbahaya karena penyakit ini terus berkembang dan sulit untuk disembuhkan. Yang menyebabkan penderitanya akan mengalami penurunan kualitas hidup.


Komplikasi kondisi medis lain yang dapat timbul pada penderita penyakit Parkinson seperti:


  • Kesulitan berpikir dan demensia
  • Depresi dan perubahan emosional
  • Masalah menelan
  • Masalah mengunyah
  • Gangguan tidur
  • Masalah pembuangan ( BAB/ kencing )
  • Hipotensi ortostatik
  • Masalah penciuman/ bau
  • Kelelahan
  • Nyeri
  • Disfungsi seksual
  • Melanoma



Pencegahan penyakit Parkinson


Dalam beberapa penelitian telah menunjukkan ada beberapa hal yang bisa membantu mengurangi gejala pada penyakit parkinson.


Olahraga aerobik secara rutin dan teratur atau mengonsumsi kafein seperti teh, kopi, atau minuman bersoda dapat menurunkan tingkatan stres. Namun, cara ini tidak cukup kuat jika seseorang mengonsumsi minuman berkafein agar terlindungi dari Parkinson.


Selain itu, ada beberapa cara lainnya yang memungkinkan dapat membantu menurunkan risiko penyakit Parkinson untuk mencegah penyakit ini semakin berkembang. Seperti Menghindari paparan zat kimia berbahaya, seperti herbisida dan pestisida, menerapkan pola makan sehat, meningkatkan kadar vitamin D, dan mengurangi stres.










******

Tanda & Gejala pada penyakit Parkinson

Tanda & gejala pada penyakit Parkinson


Pengertian penyakit Parkinson


Izky.com - Parkinson’s disease adalah kelainan sistem saraf progresif yang memengaruhi gerakan tubuh. Kelainan ini terjadi ketika sel saraf di salah satu bagian otak ada yang mati sehingga tidak menghasilkan cukup dopamin, yaitu bahan kimia otak yang berperan dalam mengendalikan gerakan otot. Akibatnya, kontrol gerakan otot menjadi menurun, sehingga penderitanya kesulitan untuk berjalan, bicara, hingga mengalami masalah keseimbangan dan koordinasi.


Disebut progresif, karena penyakit ini berkembang secara bertahap dan memburuk seiring waktu. Penyakit Parkinson adalah kelainan yang tidak dapat sembuh sepenuhnya. Namun, berbagai pilihan obat dan pengobatan dari dokter dapat dilakukan untuk membantu meringankan gejala guna menunjang kualitas hidup yang lebih baik. Pasalnya, meski penyakit ini tidak berakibat fatal, komplikasi penyakit bisa menjadi sesuatu yang serius.


Penyebab


Penyakit Parkinson terjadi ketika sel saraf (neuron) di bagian otak bernama substansia nigra menjadi terganggu atau mati. Bagian otak ini menghasilkan zat kimia otak penting yang disebut dopamin, dan berfungsi mengontrol gerakan di dalam tubuh. Bila sel saraf rusak atau mati, produksi dopamin menjadi terganggu sehingga menyebabkan masalah pada pergerakan.


Meski demikian, penyebab matinya sel saraf penghasil dopamin ini masih belum diketahui. Para ilmuwan berasumsi bahwa penyebab penyakit Parkinson adalah kombinasi antara faktor genetik dan lingkungan.




Tanda & gejala


Penderita penyakit ini kerap mengalami berbagai gejala fisik dan psikologis, seperti depresi dan gangguan kecemasan, masalah buang air kecil, sembelit, masalah kulit, gangguan tidur, hingga masalah memori. Namun, secara umum, tanda dan gejala penyakit Parkinson dapat berupa:

  • Kesulitan menulis
  • Tubuh bergetar atau tremor, yang biasanya dimulai di tungkai kaki, tangan, atau jari
  • Otot kaku dan tidak fleksibel, terutama pada lengan, tungkai kaki, atau batang tubuh
  • Gerakan melambat (bradikinesia) secara bertahap
  • Perubahan berbicara, seperti bicara terlalu cepat, cadel, atau lainnya
  • Keseimbangan dan koordinasi terganggu, seperti postur tubuh menjadi bungkuk dan terkadang menyebabkan terjatuh
  • Hilangnya gerakan otomatis, seperti berkedip, tersenyum, atau mengayunkan tangan saat berjalan

Gejala-gejala dan tanda-tanda di atas muncul secara bertahap. Meski demikian, sulit mengetahui mana yang menjadi tanda awal dari penyakit ini. Pasalnya, gejala yang muncul pada setiap orang bisa berbeda, baik dalam urutan dan intensitas


Hal lainnya, penderita penyakit ini pun kerap mengalami berbagai gejala fisik dan psikologis, seperti depresi dan gangguan kecemasan, masalah buang air kecil, sembelit, masalah kulit, gangguan tidur, hingga masalah memori.


Stadium penyakit Parkinson


dilansir dari Parkinson’s Foundation, ada pola khas yang menggambarkan perkembangan gejala penyakit ini, yang kemudian disebut dengan grade atau stadium. Berikut adalah gambaran grade, stadium, atau tahapan penyakit Parkinson:


Stadium atau tahapan 1

Pada tahap ini, penderita mengalami gejala ringan yang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti tremor di satu sisi tubuh serta perubahan postur, berjalan, dan ekspresi wajah.


Stadium atau tahapan 2

Pada tahapan ke-2, gejala mulai memburuk yang ditandai dengan tremor, kekakuan otot, dan gejala gerakan lainnya yang memengaruhi kedua sisi tubuh. Penderita masih bisa hidup sendiri, tetapi sudah kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari dan lebih lama.


Stadium atau tahapan 3

Di tahap inilah gejala sudah mulai terasa signifikan, seperti kehilangan keseimbangan dan lambatnya gerakan, sehingga sudah mengganggu aktivitas sehari-sehari, seperti berpakaian dan makan.


Stadium atau tahapan 4

Pada tahap 4, gejala Parkinson sudah parah hingga membatasi aktivitas sehari-hari penderitanya, seperti sulit berjalan yang kerap membutuhkan alat bantu jalan.


Stadium atau tahapan 5

Ini merupakan tahap yang paling parah dengan tanda kekakuan di otot kaki, sehingga penderitanya tidak bisa berdiri atau berjalan dan harus menggunakan kursi roda atau hanya terbaring di tempat tidur. Gejala yang tidak terkait dengan gerakan pun sudah mulai muncul, termasuk mengalami halusinasi dan delusi.




******


Thursday, May 12, 2022

5 stadium dari penyakit parkinson

5 Stadium Atau Tahapan dari penyakit Parkinson


Pengertian penyakit Parkinson


Izky.com - Parkinson’s disease adalah kelainan sistem saraf progresif yang memengaruhi gerakan tubuh. Kelainan ini terjadi ketika sel saraf di salah satu bagian otak ada yang mati sehingga tidak menghasilkan cukup dopamin, yaitu bahan kimia otak yang berperan dalam mengendalikan gerakan otot. Akibatnya, kontrol gerakan otot menjadi menurun, sehingga penderitanya kesulitan untuk berjalan, bicara, hingga mengalami masalah keseimbangan dan koordinasi.

Disebut progresif, karena penyakit ini berkembang secara bertahap dan memburuk seiring waktu. Penyakit Parkinson adalah kelainan yang tidak dapat sembuh sepenuhnya. Namun, berbagai pilihan obat dan pengobatan dari dokter dapat dilakukan untuk membantu meringankan gejala guna menunjang kualitas hidup yang lebih baik. Pasalnya, meski penyakit ini tidak berakibat fatal, komplikasi penyakit bisa menjadi sesuatu yang serius.


Tanda & gejala


Penderita penyakit ini kerap mengalami berbagai gejala fisik dan psikologis, seperti depresi dan gangguan kecemasan, masalah buang air kecil, sembelit, masalah kulit, gangguan tidur, hingga masalah memori.


Penyebab


Penyakit Parkinson terjadi ketika sel saraf (neuron) di bagian otak bernama substansia nigra menjadi terganggu atau mati. Bagian otak ini menghasilkan zat kimia otak penting yang disebut dopamin, dan berfungsi mengontrol gerakan di dalam tubuh. Bila sel saraf rusak atau mati, produksi dopamin menjadi terganggu sehingga menyebabkan masalah pada pergerakan.



Stadium penyakit Parkinson


dilansir dari Parkinson’s Foundation, ada pola khas yang menggambarkan perkembangan gejala penyakit ini, yang kemudian disebut dengan grade atau stadium. Berikut adalah gambaran grade, stadium, atau tahapan penyakit Parkinson:


Stadium atau tahapan 1

Pada tahap ini, penderita mengalami gejala ringan yang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti tremor di satu sisi tubuh serta perubahan postur, berjalan, dan ekspresi wajah.


Stadium atau tahapan 2

Pada tahapan ke-2, gejala mulai memburuk yang ditandai dengan tremor, kekakuan otot, dan gejala gerakan lainnya yang memengaruhi kedua sisi tubuh. Penderita masih bisa hidup sendiri, tetapi sudah kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari dan lebih lama.


Stadium atau tahapan 3

Di tahap inilah gejala sudah mulai terasa signifikan, seperti kehilangan keseimbangan dan lambatnya gerakan, sehingga sudah mengganggu aktivitas sehari-sehari, seperti berpakaian dan makan.


Stadium atau tahapan 4

Pada tahap 4, gejala Parkinson sudah parah hingga membatasi aktivitas sehari-hari penderitanya, seperti sulit berjalan yang kerap membutuhkan alat bantu jalan.


Stadium atau tahapan 5

Ini merupakan tahap yang paling parah dengan tanda kekakuan di otot kaki, sehingga penderitanya tidak bisa berdiri atau berjalan dan harus menggunakan kursi roda atau hanya terbaring di tempat tidur. Gejala yang tidak terkait dengan gerakan pun sudah mulai muncul, termasuk mengalami halusinasi dan delusi.

Selain yang disebutkan di atas, tanda dan gejala lainnya mungkin saja muncul. Bila Anda khawatir akan perubahan tertentu dalam diri Anda sebaiknya segera hubungi dokter.





*****


Wednesday, May 11, 2022

Apa itu Penyakit Parkinson?

Apa itu Penyakit Parkinson?



Pengertian penyakit Parkinson


Izky.com - Parkinson’s disease adalah kelainan sistem saraf progresif yang memengaruhi gerakan tubuh. Kelainan ini terjadi ketika sel saraf di salah satu bagian otak ada yang mati sehingga tidak menghasilkan cukup dopamin, yaitu bahan kimia otak yang berperan dalam mengendalikan gerakan otot. Akibatnya, kontrol gerakan otot menjadi menurun, sehingga penderitanya kesulitan untuk berjalan, bicara, hingga mengalami masalah keseimbangan dan koordinasi.

Disebut progresif, karena penyakit ini berkembang secara bertahap dan memburuk seiring waktu. Penyakit Parkinson adalah kelainan yang tidak dapat sembuh sepenuhnya. Namun, berbagai pilihan obat dan pengobatan dari dokter dapat dilakukan untuk membantu meringankan gejala guna menunjang kualitas hidup yang lebih baik. Pasalnya, meski penyakit ini tidak berakibat fatal, komplikasi penyakit bisa menjadi sesuatu yang serius.

Diperkirakan sekitar 1 dari 500 orang di dunia terkena penyakit Parkinson. Sebagian besar penderitanya mulai mengalami gejala ketika berusia di atas 50 tahun. Namun, sekitar 1 dari 20 orang dengan kondisi ini mengaku pertama kali merasakan gejala pada usia di bawah 40 tahun.


Tanda & gejala


Penderita penyakit ini kerap mengalami berbagai gejala fisik dan psikologis, seperti depresi dan gangguan kecemasan, masalah buang air kecil, sembelit, masalah kulit, gangguan tidur, hingga masalah memori. Namun, secara umum, tanda dan gejala penyakit Parkinson dapat berupa:

  • Kesulitan menulis
  • Tubuh bergetar atau tremor, yang biasanya dimulai di tungkai kaki, tangan, atau jari
  • Otot kaku dan tidak fleksibel, terutama pada lengan, tungkai kaki, atau batang tubuh
  • Gerakan melambat (bradikinesia) secara bertahap
  • Perubahan berbicara, seperti bicara terlalu cepat, cadel, atau lainnya
  • Keseimbangan dan koordinasi terganggu, seperti postur tubuh menjadi bungkuk dan terkadang menyebabkan terjatuh
  • Hilangnya gerakan otomatis, seperti berkedip, tersenyum, atau mengayunkan tangan saat berjalan



Penyebab


Penyakit Parkinson terjadi ketika sel saraf (neuron) di bagian otak bernama substansia nigra menjadi terganggu atau mati. Bagian otak ini menghasilkan zat kimia otak penting yang disebut dopamin, dan berfungsi mengontrol gerakan di dalam tubuh. Bila sel saraf rusak atau mati, produksi dopamin menjadi terganggu sehingga menyebabkan masalah pada pergerakan.

Meski demikian, penyebab matinya sel saraf penghasil dopamin ini masih belum diketahui. Para ilmuwan berasumsi bahwa penyebab penyakit Parkinson adalah kombinasi antara faktor genetik dan lingkungan.

Selain itu, para peneliti juga mencatat banyak perubahan muncul di otak pada penderita Parkinson, meskipun tidak jelas mengapa perubahan tersebut terjadi. Perubahan ini termasuk adanya body Lewy, yaitu gumpalan zat tertentu dalam sel otak sebagai penanda mikroskopis Parkinson, serta A-synuclein, yaitu protein alami yang tersebar luas di dalam body Lewy.


Komplikasi


Parkinson adalah penyakit yang dapat menurunkan kualitas hidup seseorang. Kelainan ini pun kerap disertai dengan beberapa kondisi medis lain yang dapat semakin mengganggu kesehatan penderitanya.

Penyakit Parkinson mungkin bisa dianggap sebagai penyakit yang cukup bahaya. Apalagi, penyakit ini terus berkembang seiring berjalannya waktu dan tidak bisa disembuhkan. Dengan demikian, penderitanya mau tidak mau akan mengalami penurunan kualitas hidup ini.

Beberapa komplikasi dan kondisi medis lain yang juga mungkin timbul pada penderita penyakit Parkinson seperti Kesulitan berpikir dan demensia, Depresi dan perubahan emosional, Masalah menelan, Masalah mengunyah, Gangguan tidur, Masalah kandung kemih, Sembelit, Hipotensi ortostatik, Masalah penciuman, Kelelahan, Nyeri, Disfungsi seksual, Melanoma.







******


Tuesday, May 10, 2022

Kenapa pengidap OCD memeriksa sesuatu berulang - ulang?

Alasan Kenapa Penderita OCD Sering berulang - ulang memeriksa sesuatu




Pengertian OCD

Izky.com - Obsessive Compulsive Disorder (OCD) adalah sebuah gangguan mental yang membuat penyandangnya tidak punya kontrol atas pikiran-pikiran obsesif serta perilaku yang kompulsif.

Penderita OCD bisa terjebak di dalam siklus perbuatan dan pikiran berulang yang tidak ada hentinya. Siklus itu nantinya dapat menyita waktu pengidapnya yang bisa mengganggu aktivitas harian normal mereka.

Penderita gangguan obsesif kompulsif ini biasanya mereka tidak tahu bagaimana cara menghentikannya. Gejala pun bisa datang dan pergi, serta mereda atau memburuk, seiring waktu.


Penyebab

Faktor penyebab pada Gangguan ini belum diketahui secara pasti, namun para pakar ahli mengatakan ada beberapa kemungkinan faktor yang menyebabkan gangguan OCD yaitu genetik, masalah pada kortek frontal otak, ingatan masa lalu yang buruk, sindrom? Dan berkemungkinan terinfeksi streptokokus.


Gejala

Penderita obsessive compulsive disorder dapat memiliki gejala obsesif dan kompulsif, bahkan keduanya.

Obsesif adalah pikiran, dorongan, atau gambaran mental yang berulang-ulang sehingga menyebabkan kecemasan. Sedangkan, kompulsif adalah perilaku berulang penderita OCD karena merasakan dorongan untuk melakukan dalam menanggapi pemikiran obsesif.


Alasan Penderita OCD memeriksa sesuatu secara berulang - ulang

Sebenarnya, memeriksa sesuatu merupakan hal normal bila seseorang memeriksa ulang suatu hal untuk memastikan segalanya aman.

Namun, berbeda dengan penderita OCD mereka bisa melakukan berulang-ulang. Biasanya ada perilaku khusus terkait hal ini, seperti:

Sulit mengendalikan pikiran atau tingkah laku yang di idapnya
Menghabiskan setidaknya 1 jam sehari pada pemikiran atau perilaku ini
Tidak nyaman ketika melakukan perilakunya. namun, mungkin merasa lega sejenak dari kegelisahan yang dipikirkan oleh pikiran
Mengalami masalah signifikan dalam kehidupan sehari-hari karena pemikiran atau perilaku ini




******

2 Jenis Gejala OCD

Jenis Gejala Pada Pangguan Mental Obsessive Compulsive Disorder (OCD)


Pengertian OCD

Izky.com - Obsessive Compulsive Disorder (OCD) adalah sebuah gangguan mental yang membuat penyandangnya tidak punya kontrol atas pikiran-pikiran obsesif serta perilaku yang kompulsif.

Penderita OCD bisa terjebak di dalam siklus perbuatan dan pikiran berulang yang tidak ada hentinya. Siklus itu nantinya dapat menyita waktu pengidapnya yang bisa mengganggu aktivitas harian normal mereka.

Penderita gangguan obsesif kompulsif ini biasanya mereka tidak tahu bagaimana cara menghentikannya. Gejala pun bisa datang dan pergi, serta mereda atau memburuk, seiring waktu.


Penyebab


Faktor penyebab pada Gangguan ini belum diketahui secara pasti, namun para pakar ahli mengatakan ada beberapa kemungkinan faktor yang menyebabkan gangguan OCD yaitu genetik, masalah pada kortek frontal otak, ingatan masa lalu yang buruk, sindrom? Dan berkemungkinan terinfeksi streptokokus.



Gejala


Penderita obsessive compulsive disorder dapat memiliki gejala obsesif dan kompulsif, bahkan keduanya.

Obsesif adalah pikiran, dorongan, atau gambaran mental yang berulang-ulang sehingga menyebabkan kecemasan. Sedangkan, kompulsif adalah perilaku berulang penderita OCD karena merasakan dorongan untuk melakukan dalam menanggapi pemikiran obsesif.


Gejala Obsesif

Obsesif adalah pikiran, dorongan, atau gambaran mental yang berulang-ulang sehingga menyebabkan kecemasan.

  • Memerlukan hal-hal simetris atau dalam urutan sempurna atau tepat
  • Takut pada bakteri atau kuman
  • Takut melakukan kesalahan
  • Takut akan dipermalukan atau berperilaku yang tidak diterima secara sosial
  • Pikiran tabu atau larangan yang tidak diinginkan meliputi seks, agama, dan bahaya
  • Pikiran agresif tentang diri sendiri
  • Pikiran plin - plan yang berlebih


Gejala Kompulsif

  • Kompulsif adalah perilaku berulang penderita OCD karena merasakan dorongan untuk melakukan dalam menanggapi pemikiran obsesif.
  • Mandi atau bersih-bersih atau mencuci tangan berlebihan dan berulang-ulang
  • Menolak untuk berjabat tangan atau memegang pegangan pintu
  • Mengurutkan dan menata barang dengan cara yang tepat dan khusus
  • Memeriksa sesuatu tindakan secara berulang
  • Berhitung secara kompulsif
  • Makan dengan urutan spesifik
  • Mengulangi kata-kata atau kalimat atau doa tertentu
  • Perlu melakukan tugas dalam beberapa kali
  • Mengumpulkan atau menimbun barang tanpa nilai jelas


Namun, berbeda dengan penderita OCD, mereka bisa melakukan berulang-ulang. Biasanya ada perilaku khusus terkait hal ini, seperti:

  • Sulit mengendalikan pikiran atau tingkah laku
  • Menghabiskan setidaknya 1 jam sehari pada pemikiran atau perilaku ini
  • Tidak nyaman ketika melakukan perilakunya. namun, mungkin merasa lega sejenak dari kegelisahan yang dipikirkan oleh pikiran
  • Mengalami masalah signifikan dalam kehidupan sehari-hari karena pemikiran atau perilaku ini

Beberapa penderita OCD juga mengalami gangguan tic secara motorik maupun vokal.

Tic motorik adalah gerakan yang mendadak, sebentar, dan berulang seperti mata berkedip, wajah meringis, bahu naik, kepala atau bahu menyentak. Sedangkan, Tic vokalis adalah suara yang berulang-ulang seperti suara membersihkan tenggorokan, atau mengendus.




******

Monday, May 9, 2022

Penjelasan tentang OCD

Apa Itu Obsessive Compulsive Disorder (OCD)?



Pengertian OCD

Izky.com - Obsessive Compulsive Disorder (OCD) adalah sebuah gangguan mental yang membuat penyandangnya tidak punya kontrol atas pikiran-pikiran obsesif serta perilaku yang kompulsif.

Penderita OCD bisa terjebak di dalam siklus perbuatan dan pikiran berulang yang tidak ada hentinya. Siklus itu nantinya dapat menyita waktu pengidapnya yang bisa mengganggu aktivitas harian normal mereka.

Penderita gangguan obsesif kompulsif ini biasanya mereka tidak tahu bagaimana cara menghentikannya. Gejala pun bisa datang dan pergi, serta mereda atau memburuk, seiring waktu.


Penyebab

Faktor penyebab pada Gangguan ini belum diketahui secara pasti, namun para pakar ahli mengatakan ada beberapa kemungkinan faktor yang menyebabkan gangguan OCD yaitu genetik, masalah pada kortek frontal otak, ingatan masa lalu yang buruk, sindrom? Dan berkemungkinan terinfeksi streptokokus.


Gejala

Penderita obsessive compulsive disorder dapat memiliki gejala obsesif dan kompulsif, bahkan keduanya.


Gejala Obsesif

Obsesif adalah pikiran, dorongan, atau gambaran mental yang berulang-ulang sehingga menyebabkan kecemasan.

  • takut kuman
  • takut melakukan kesalahan
  • takut akan dipermalukan atau berperilaku yang tidak diterima secara sosial
  • pikiran tabu atau larangan yang tidak diinginkan meliputi seks, agama, dan bahaya
  • pikiran agresif tentang diri sendiri atau orang lain
  • memerlukan hal-hal simetris atau dalam urutan sempurna atau tepat
  • pikiran ragu-ragu yang berlebihan dan keperluan untuk memastikan berulang-ulang


Gejala Kompulsif

Kompulsif adalah perilaku berulang penderita OCD karena merasakan dorongan untuk melakukan dalam menanggapi pemikiran obsesif.

  • mandi atau bersih-bersih atau mencuci tangan berlebihan dan berulang-ulang
  • menolak untuk berjabat tangan atau memegang pegangan pintu
  • mengurutkan dan menata barang dengan cara yang tepat dan khusus
  • memeriksa sesuatu berulang-ulang, seperti berulang kali memeriksa pintu yang terkunci
  • berhitung secara kompulsif
  • makan dengan urutan spesifik
  • terjebak pada kata-kata, gambar atau pikiran yang biasanya mengganggu dan tidak akan hilang dan bahkan mengganggu ketika tidur
  • mengulangi kata-kata atau kalimat atau doa tertentu
  • perlu melakukan tugas dalam beberapa kali
  • mengumpulkan atau menimbun barang tanpa nilai jelas



Faktor Risiko

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko gangguan obsesif-kompulsif meliputi:


Riwayat Keluarga

Punya orang tua ataupun anggota keluarga lain dengan OCD juga bisa meningkatkan risiko Anda mengalami gangguan yang sama.


Peristiwa Kehidupan yang Penuh Tekanan

Mengalami peristiwa traumatis termasuk stres juga meningkatkan risiko terkena OCD.

Pengalaman buruk tersebut dapat memicu pikiran dan perasaan yang mengganggu, serta tekanan emosional yang menjadi ciri OCD.


Gangguan Kesehatan Mental Lainnya

Obsessive compulsive disorder mungkin juga terkait dengan masalah kesehatan mental lainnya, misalnya depresi, gangguan kecemasan, dan penyalahgunaan zat atau tic disorder.





*******

Sunday, May 8, 2022

Penyakit Parkinson Pada Gangguan Bipolar

Penyakit Parkinson Pada Penderita Bipolar


Pengertian Bipolar & Parkinson


Izky.com - Gangguan bipolar atau mania depresif adalah gangguan mental yang mempengaruhi perubahan suasana hati, energi, tingkat aktivitas, dan konsentrasi. Perubahan suasana hati secara tiba-tiba dapat memengaruhi tidur, energi, aktivitas, perilaku, dan kemampuan berpikir pengidapnya.

Gangguan bipolar adalah kondisi seumur hidup. Artinya, gangguan mental ini tidak benar-benar bisa disembuhkan. Meski begitu, gejalanya bisa dikelola dengan baik melalui terapi dan pengobatan.

Pengidap bipolar yang sebelumnya merasa sangat gembira bisa tiba-tiba berubah menjadi sangat sedih dan putus asa.

Sedangkan, Parkinson adalah penyakit degeneratif progresif (semakin lama semakin memberat gejalanya) yang menyerang saraf otak yang mengatur pergerakan tubuh. Gejalanya timbul secara perlahan, dimulai dari tremor (gemetar pada tangan dan jari-jari) yang sangat ringan hingga tidak disadari oleh penderitanya.


Risiko Penyakit Parkinson pada Penderita Bipolar

Menurut Penelitian di Taiwan, penderita gangguan bipolar lebih berisiko mengalami penyakit Parkinson di kemudian hari. Peneliti utama, dr. Mu Hong Chen dari Taipei Veterans General Hospital meneliti 56 ribu orang di Taiwan yang didiagnosis mengalami bipolar dari tahun 2001 - 2009. Mereka lantas dibandingkan dengan 225 ribu orang yang tidak memiliki riwayat bipolar atau pun penyakit Parkinson. Kedua grup tersebut lantas terus dipantau hingga tahun 2011.

Selama periode studi tersebut, didapati bahwa mereka yang menderita penyakit bipolar memiliki risiko tujuh kali lipat lebih tinggi terkena penyakit Parkinson. Hal ini berlaku ketika dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami gangguan bipolar. 
Selain itu, orang dengan gangguan bipolar juga dapat terkena penyakit Parkinson sembilan tahun lebih muda dari usia rata-rata seseorang dengan Parkinson, yakni 64 tahun.

Tidak hanya gangguan bipolar, ternyata penelitian terdahulu telah menemukan bahwa penderita kelainan psikis lainnya (seperti depresi dan kecemasan) juga memiliki faktor risiko Parkinson.

Pencegahan

Umumnya berkembangnya penyakit Parkinson tidak dapat dicegah. Terlebih, bagi mereka yang memiliki masalah psikis sebelumnya, lebih berisiko mengalami penyakit Parkinson di kemudian hari. 

Namun, beberapa hal dibawah ini mungkin dapat mengurangi risiko terkena penyakit Parkinson:

Segera berobat agar terkontrol dengan baik
Pola hidup sehat dengan makan makanan bergizi seimbang dan olahraga
Hindari trauma kepala berulang
Hindari paparan toksin atau racun








*****

Ciri - ciri Gangguan Bipolar

Ciri Gangguan Bipolar




Pengertian Bipolar

Izky.com - Gangguan bipolar atau mania depresif adalah gangguan mental yang mempengaruhi perubahan suasana hati, energi, tingkat aktivitas, dan konsentrasi. Perubahan suasana hati secara tiba-tiba dapat memengaruhi tidur, energi, aktivitas, perilaku, dan kemampuan berpikir pengidapnya.

Gangguan bipolar adalah kondisi seumur hidup. Artinya, gangguan mental ini tidak benar-benar bisa disembuhkan. Meski begitu, gejalanya bisa dikelola dengan baik melalui terapi dan pengobatan.

Pengidap bipolar yang sebelumnya merasa sangat gembira bisa tiba-tiba berubah menjadi sangat sedih dan putus asa. Perubahan gejala bipolar pun bisa terjadi di saat yang bersamaan dan situasi ini disebut sebagai periode campuran (mixed state).

Gejala Bipolar

Terdapat dua fase dalam gangguan bipolar, yaitu fase mania (naik) dan depresi (turun). Pada periode mania, pengidapnya jadi terlihat sangat bersemangat, enerjik, dan bicara cepat. Sedangkan pada periode depresi, pengidapnya akan terlihat sedih, lesu, dan hilang minat terhadap aktivitas sehari-hari.


Ciri Gangguan Bipolar


Ciri-ciri Bipolar Episode Mania

Keadaan ini biasanya terjadi selama kurung waktu sejam, sehari, bahkan seminggu. Mereka yang berada pada episode ini akan memperlihatkan perilaku ekstrem dan tak terkendali.

Meski sulit dideteksi, ada beberapa ciri bipolar yang mudah diketahui yaitu:
  • Menunjukkan kegembiraan yang berlebihan
  • Berbicara dengan sangat cepat dan sulit untuk dipahami
  • Mengalami insomnia bahkan tidak tidur semalaman
  • Tidak mampu membedakan mana yang nyata dan mana yang khayalan
  • Susah diam, bergerak secara terus menerus atau berjalan mondar mandir
  • Berubah menjadi lebih waspada terhadap lingkungan di sekitar


Ciri-ciri Bipolar Episode Depresif

Berbanding terbalik dengan episode mania, pengidap bipolar yang berada di situasi episode depresi cenderung menampakkan kesedihan serta keputusasaan yang tidak wajar. Ada berbagai tanda ciri bipolar episode depresi, yakni:
  • Hilangnya ketertarikan terhadap aktivitas yang sedang dilakukan
  • Tampak tak bertenaga dan berenergi secara tiba-tiba
  • Berubahnya pola makan secara drastis, baik meningkat hingga hilangnya nafsu makan
  • Menarik diri dari lingkungan serta orang-orang terdekat
  • Mengalami gangguan terhadap daya ingat dan kesulitan focus
  • Berbicara dengan sangat lambat sehingga tampak seperti pembicaraan jadi berputar-putar








*****


Apa Itu Gangguan Pseudobulbar affect (PBA)?

Apa Itu Gangguan Pseudobulbar affect (PBA)? Pengertian Izky.com - Pseudobulbar affect adalah kondisi gangguan saraf yang membuat emosi yan...